Mari kita wariskan mata air kepada anak cucu kita, jangan mewariskan air mata

14 01 2010

“2 Wali Kota dan 2 Bupati  Bandung Tanam Pohon Penghijauan di Curug Dago”

Oleh :Omas Witarsa.

 

            Dengan disambut  Seni tradisional Gotong Singa yang dilakukan oleh serombongan wanita dari sanggar Monita , kemudian tarian lengser anak kecil yang begitu lincah , tari Jaipongan  dan tarian Pencak Silat . Acara yang sedianya  dimulai jam 09.00 Wib. Mundur waktunya sampai jam 10.30  wib. Karena ada keterlambatan kedatangan salah seorang Bupati Bandung.

          Di Balegede   tempat panggung upacara , para undangan  sambil menanti acara dimulai menikmati sajian hiburan Band yang dimainkan oleh gadis-gadis cantik, dengan lagu-lagu bertemakan lingkungan seperti lagu “Curug Dago “,  begitu juga kelompok Galengan menyajikan musik dari bambu. seperti Karinding dll

             Acara yang diberi nama “Penanaman Pohon di Wilayah Perbatasan Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi dan  Kabupaten Bandung Barat , dan Bandung Timur  “.dilaksanakan pada hari Rabu 23 Desember 2009   kali ini dipusatkan di Bale Gede  yang ada di Curug Dago  Bandung dan menanam  2400 batang pohon  yang terdiri dari pohon Damar, Matoa, Sawokecik, Salam, Kayu manis, Kayu putih, Huni, Tanjung dll .      

                 Penanaman  untuk di empat wilayah itu berada diperbatasan  Bandung Kulon dengan Cimahi, Kecamatan Panyileukan dengan Kabupaten Bandung, Kecamatan Ujung Berung dengan Kabupaten Bandung Timur.

           Dengan dihadiri oleh lebih dari 500 undangan dari berbagai instansi dan lapisan masyarakat Bandung, LSM Camel, Gemapeta, Penjara, Komunitas Kasundaan “Lantera”, Galengan dll ,Padepokan Toni Kanwa , dan Para pelajar SD,SMP,SMA, Pramuka dan sejumlah awak media yang ada di Bandung .

             Acara dimeriahkan  oleh Trio A  (Aom Kusman ,Asep Truna dan Teh Acik)  yang bersama memandu acara sehingga berlangsung penuh dengan humor  serius tapi santai.

           Setelah Pembacaan Ayat Suci Al’quran, dilanjutkan dengan sambutan dari  Kapala Bapeda Jawa-barat  Tjutju Nurdin  , dalam laporanya mengatakan : “ kegiatan penghijauan yang dilakukan diharapkan dapat memotivasi seluruh masyarakat  di setiap daerah agar lebih giat lagi menggalakkan penghijauan , pemeliharaan dan pengawasan agar dapat dicapai dengan optimal hasilnya. “.

             Penyair Iwan Soleh berhasil menggelitik hadirin dengan Puisi  yang berjudul “Jawer kotok “, tumbuhan yang satu ini sekarang sudah mulai ditinggalkan oleh warga kota,  tumbuhan Jawer kotok ini  bagi orang Sunda  dahulu adalah saksi bagi lahirnya jabang bayi ke dunia . Tumbuhan yang  mengandung philosofi one man one tre, yang sejak zaman dahulu kala telah di terapkan oleh nenek moyang urang Sunda.

 4 batang Pohon Damar  ditanam oleh 4 tokoh  Pemerintah daerah Jawa-barat( Walikota Bandung Dada Rosada sebagai tuan runah, Bupati Bandung Obar Subarna, Bupati Bandung Barat  Abubakar, dan Wakil Walikota Cimahi Eddy Rahmat)  pohon  ini dipilih karena kata “Damar “ dalam bahasa sunda berarti Lampu.

             Pohon damar juga memiliki fungsi sebagai pohon yang produktif  (sebagai pohon pelindung, Getahnya dapat dimanfaatkan  untuk industri , anti rayap  , kayunya juga dapat digunakan sebagai  baham bangunan dll ),  dengan demikian diharapkan mampu menerangi hati masyarakat  Bandung agar menjadi lebih sadar lingkungan .                      

                  Bupati Bandung Obar Subarna menyebutkan sekitar Rp 3,5 miliar sampai 4 Miliar APBD Kabupaten Bandung mengalokasikan anggaran untuk Penghijauan dan rehabilitasi lahan kritis , Untuk kabupaten Bandung yang luasnya mencapai 6000 ha baru 35 persen hutan rakyat dan hutan negara yang sudah dihijaukan , diperkirakan th 2010 bisa selesai dihijaukan .

                  Seniman Dodong Kodir ( 100 bh lebih membuat  alat musik dari sampah )  berhasil memukau hadirin  dengan salah satu  alat musik yang diberi nama Tornadong ( Tornado Buatan Dodong  terbuat dari buah waluh kukuk yang diberi Fiber dan per penggetar  sehingga menghasilkan suara yang dahsyat) . menggelegar menelusuri sela pepohonan pinus kemudian lenyap ditelan deru Air terjun Curug Dago  yang legendaris.

       Dodong kodir pun mempersilahkan Pak Wali dan Pak Bupati untuk mencoba membunyikan alat musik yang terbuat dari sampah bersama-sama , dan mendapat aplaus yang luar biasa dari penonton.

                Tak ayal Asep truna yang jadi MC nyeletuk : “…. bisa we Si Dodong mah  ngagawekeun pak Bupati jeung pak Wali  teh….!  “ 

               Dalam kesempatan itu walikota Bandung mengatakan :  “….tidak kurang dari 50.000 pohon  dibutuhkan untuk menghijaukan green belt  di perbatasan kota , ia pun  mengundang  Seniman ( Jufri ), Wartawati ( Detik .Com) , seorang Ibu perwakilan dari Kec.Coblong, dan LSM  Camel ( Toteng ), untuk naik ke panggung dan meminta kepada mereka untuk mengucapkan komitmenya  disaksikan  para hadirin semuanya.Komitmen bersama Seniman,LSM,Wartawan dan Warga Coblong

Walikota Bandung Dada Rosada menutup sambutanya dengan kalimat yang sangat dalam artinya : “…..Mari kita wariskan  mata air kepada anak cucu kita, jangan mewariskan  Airmata” .              

 

Do’a disampaikan Kepala Departemen agama  Jawa Barat, dan  dalam kesempatan itu sempat dibagikan buku “ Fikih Lingkungan “ kepada  ke empat pejabat dan beberapa undangan lainnya .

 Begitu pula Kepala Tahura  ikut membagikan  buku Pesona  Tahura .

 Acara berikutnya adalah penanaman pohon dan pelepasan burung , kemudian dilanjutkan denga peresmian penggunaan jaring sampah di sungai Cikapundung.      

 

 Penandatanganan Wasiat Cikapundung olehBupati dan walikota beserta para pejabat yang mengiringinya, serta persembahan ritual air oleh  LenteraNusantara 

Jaring sampah diturunkan  untuk mengurangi menumpuknya sampah di Curug Dago

           Setelah itu Pak Wali dan rombongan menuju perbatasan Bandung dan kabupaten . yang berada di tepian jembatan Cikapundung  dekat PLTA Bengkok.                                                                                            

Beberapa Instansi dan Komunitas tradisional turut Mendukung acara ini

“Camel” Koordinasi sebelum Upacara Penghijauan dan Launching CRP bersama Kapolsek Coblong  “

       Sayang sekali suksesnya acara ini menyajikan cerita sedih tentang ketidak pedulian terhadap upaya melestarikan lingkungan di kawasan Dago ini :” ……. rupanya para pengusaha disepanjang jl. Dago yang jumlahnya banyak  itu  , sama sekali tidak peduli dengan lingkungan mereka  , ini terbukti dengan tidak satupun dari 50 buah lebih proposal yang dikirimkan ke pengusaha FO,Hotel,Café, Kantor-kantor Pemerintah maupun swasta ……..tidak satupun yang peduli dan  merespon positif , apalagi jadi sponsor tunggal …! …  LSM  Camel ini telah bergerak sejak 7 bulan yang lalu , melakukan program bersih sungai Cikapundung dan memberikan contoh kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan.  Dengan biaya sendiri alias patungan dari  masyarakat dan warga sekitar Curug Dago yang peduli. untuk makan(ngaliwet) sehari-hari apa adanya  , “ CRP“  ini akan berjalan terus , sampai Cikapundung menjadi bersih  dan kawasan Dago ke atas  menjadi hijau , ini adalah langkah awal bukan puncak dari program CRP  “.  Demikian kata salah seorang aktifis linggkungan  yang enggan disebut namanya . ( Omas Witarsa, LPM  USDI- ITB 24/12/2009 )


Tindakan

Information

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.